I.
Pendahuluan
Sunan
Kalijaga merupakan salah seorang dari wali songo yang menyebarkan agama islam
di Pulau Jawa. Beliau dikenal sebagai seorang wali yang melakukan dakwahnya
melalui kesenian dan kebudayaan. Beliau merupakan sosok yang menjunjung tinggi
budaya lokal. Bernama asli Joko Said, nama lain beliau adalah Lokajaya,
Raden Abdurrahman, Pangeran Tuban dan Syekh Malaya. Merupakan murid
dari Sunan Bonang. Salah satu kesenian yang menjadi media dakwah beliau adalah wayang.
Beliau juga berpartisipasi dalam
pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak.
II.
Isi
A.
Tentang Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga
merupakan salah satu dari sembilan wali penyebar Agama Islam di Pulau Jawa.
Nama aslinya Joko Said. Beliau lahir tahun 1450 M, yang merupakan anak dari
Adipati Tuban bernama Arya Wilatikta yang dikenal sebagai Adipati yang bengis
dan taklid kepada Pemerintahan Majapahit yang memeluk ajaran Hindu saat itu.
Arya Wilatikta menetapkan pajak yang tinggi pada penduduk. Joko Said merupakan
salah seorang yang menentang kebijakan Ayahnya saat itu. Klimaks dari
penentangan Joko Said dengan membongkar Lumbung Padi Kadipaten dan membagikan
kepada warga, yang menyebabkan beliau di usir dari istana.
Setelah keluar
dari istana Joko Said pernah menjadi seorang perampok. Beliau merampok
orang-orang kaya yang tidak mau mengeluarkan zakat dan kikir, kemudian hasil
rampokkannya dibagikan kepada rakyat miskin yang kelaparan. Hingga akhirnya
Joko Said bertemu dengan salah seorang dari wali songo yakni Sunan Bonang. Beliau
kemudian berguru kepada Sunan Bonang dan dikenal sebagai Sunan Kalijaga.
B.
Cara Dakwah Sunan Kalijaga
Metode berdakwah
Sunan Kalijaga hampir sama denga metode dakwah Sunan Bonang. Beliau berdakwah
dengan memasukkan unsur-unsur kesenian dan kebudayaan agar mudah diterima oleh
rakyat yang pada masa itu masih banyak memeluk agama hindu. Beliau sangat
toleran terhadap kebudayaan lokal yang ada, namun beliau sangat tegas jika
membahas mengenai akidah. Selama
budaya masih bersifat transitif dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam,
beliau menerimanya.
Selama
proses berdakwahnya banyak hasil karya yang beliau ciptakan sebagai sarana
untuk berdakwah. Diantaranya; beberapa tembang suluk yang sangat populer bahkan
hingga kini seperti Gundul-gundul Pacul dan Lir-Ilir. Beliau juga
memberikan inovasi terhadap dunia pewayangan pada masa itu seperti Karakter-karakter
wayang yang dibawakannya pun beliau tambah dengan karakter-karakter baru yang
memiliki nafas Islam. Misalnya, karakter Punakawan yang terdiri atas Semar,
Bagong, Petruk, dan Gareng adalah karakter yang sarat dengan muatan Keislaman.
C. Karya-Karya Sunan Kalijaga
Wayang
sudah dikenal oleh penduduk Jawa jauh sebelum Islam datang. Wayang Kulit
yang kita kenal sekarang adalah salah hasil karya inovasi drai Sunan Kalijaga
dimana saat itu wayang yang dikenal masyarakat adalah Wayang Beber Kuno yang
menggambarkan wujud manusia secara detail, kemudian Sunan Kalijaga merubahnya
menjadi wayang kulit yang lebih samar agar tidak menyerupai wujud manusia.
Karena menurut sepengetahuannya menggambarkan dan mencitrakan manusia secara
detail dalam Islam hukumnya adalah haram.
Lakon-lakon
yang beliau bawakan dalam pertunjukkannya pun lebih islami, bukan lakon-lakon
hindu seperti, Ramayana dan Mahabratha. Meskipun tokoh yang
dibawakan tetap sama (ex. Pandawa, kurawa,dll).
Karakter-karakter wayang yang dibawakannya pun beliau tambah dengan
karakter-karakter baru yang memiliki nafas Islam. Misalnya, karakter Punakawan
yang terdiri atas Semar, Bagong, Petruk, dan Gareng adalah karakter yang sarat
dengan muatan Keislaman.
Terdapat pula istilah pewayangan yang merujuk pada bahasa Arab seperti:
- Dalang, yang
diambil dari kata “Dalla” yang artinya menunjukkan. Dalam hal ini, seorang “Dalang”
adalah seseorang yang “menunjukkan kebenaran kepada para penonton wayang”.
- Tokoh Semar, yang berasal dari kata “Simaar”
yang berarti Paku. Filosofisnya adalah dimana seseorang harus memiliki iman
yang kuat dan kokoh laksana paku yang menancap.
- Tokoh Petruk,yang berasal dari kata “Fat-ruuk”
yang berarti tinggalkan, dimana seseorang harus meninggalkan apa yang disembah
selain Allah semata
- Tokoh Gareng, yang berasal dari kata “Qariin”
yang berarti teman. Seseorang muslim harus pandai mencari teman untuk diajak
menuju jalan kebaikan
- Tokoh Bagong, yang berasal dari kata “Baghaa)
yang berarti berontak. Seseorang muslim harus memberontak ketika melihat
kedzaliman di hadapannya.
Sunan
kalijaga sering keluar masuk kampung untuk melakukan pagelaran-pagelaran
wayang. Beliau melakukan pagelaran tapa memungut biaya pada penontonnya, beliau
hanya meminta mereka untuk mengucapkan dua kalimat syahadat kepada siapa saja
yang menonton pertunjukkan wayangnya.
Beliau
memiliki pemikiran bahwa mereka harus didekati secara perlahan, jadi tujuan
utama beliau adalah mengislamkan mereka dahulu, baru kemudian bertahap
mengajarkan akidah kepada mereka. Beliau juga berpendapat ketika seseorang
telah memahami Islam maka secara perlahan kebiasaan yang ada padanya dahulu
akan hilang dengan sendirinya.
Selain Wayang
Kulit, beliau juga menciptakan tembang suluk yang sangat populer salah
satunya adalah Lir-Ilir. Tembang terseut sarat akan makna tentang
hakikat kehidupan dengan liriknya yang indah.
Berikut
lirik dari tembang suluk Lir-Ilir karya Sunan Kalijaga:
Lir-ilir, lir-ilir
Tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak sengguh temanten anyar
Bocah angon, bocah angon
Penekna belimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekna
Kanggo mbasuh dodod iro
Dodod iro, dodod iro
Kumitir bedhah ing pinggir
Dondomana, jlumatana
Kanggo seba mengko sore
Mumpung padhang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Yo surak ’a, surak “hiyoo”
Terkandung
filosof yang sangat mendalam dari tembang tersebut. Melalui tembang tersebut
Sunan Kalijaga mengingatkan umat Islam untuk bangkit, karena telah tiba
saatnya, bagi mereka untuk menerima ajaran Islam yang di bawa oleh para wali.
Selain itu Islam dalam tembang ini di ibaratkan layaknya pengantin baru yang
memikat hati, dan membawa kebahagian bagi orang-orang sekitarnya.
Para
pemimpin-pemimpin di ibaratkan sebagai seorang penggembala (Cah Angon), Rukun
Islam dan Shalat waktu diumpakan sebagai buah belimbing (bentuk belimbing yang
berbentuk segi 5). Sunan kalijaga meminta agar para pemimpin-pemimpin untuk
memberi contoh kepada rakyatnya untuk menjalankan sholat 5lima waaktu dan rukun
Islam.
Sunan
memerintahkan orang Islam untuk tetap berusaha menjalankan lima
rukun Islam dan sholat lima waktu walaupun banyak rintangannya (licin jalannya)
semua itu diperlukan untuk menjaga kehidupan beragama mereka. Beliau
berpendapat bahwa agama seperti layaknya kain yang melindungi jiwa. Namun saat
itu kemerosotan moral telah menyebabkan banyak orang meninggalkan ajaran agama
mereka sehingga kehidupan
beragama mereka digambarkan seperti pakaian yang telah rusak dan robek.
Sunan memerintahkan agar orang Jawa memperbaiki kehidupan beragamanya
dengan cara yang rusak tadi menjalankan ajaran agama Islam secara benar, untuk
bekal menghadap Allah SWT di hari nanti. Selagi masih banyak waktu, selagi
masih banyak kesempatan, perbaikilah kehidupan beragamamu dan bertaubatlah. Bergembiralah,
semoga kalian mendapat anugerah dari Tuhan. Disaatnya nanti datang panggilan
dari Yang Maha Kuasa nanti, sepatutnya bagi mereka yang telah menjaga kehidupan
beragama-nya dengan baik untuk menjawabnya dengan gembira.
III.
Penutup
Kebudayaan bukan merupakan musuh dari agama, akan
tetapi keduanya sangaatlah berkaitan erat. Ini dibuktikan oleh Sunan Kalijaga,
dengan berhasilnya beliau memasukkan unsur ajaran islam kedalam kebudayaan
sehingga menjadikan sebuah perpaduan yang apik dan harmonis. Sunan Kalijaga
memberikan pelajarkan kepada kita, bahwa untuk mebujuk seseorang itu, tidak
harus secara serta merta. Karena jika kita menyerang pendirian mereka, maka
mereka akan menajauh. Maka ikutilah mereka sambil mempengaruhinya.